Perbedaan Tarling Modern dan Klasik

Tarling Indramayu klasik dan modern itu sebenarnya hanyalah istilah. Karena modernisasi itu merupakan perkembangan jaman. Tarling kalau dilihat dari alatnya sudah modern. Kalau lagu dan irama musiknya memang klasik. Karena sudah ada sejak jaman Hindu dan saat jaman penjajahan Belanda. Hanya saja kini memperoleh Sebutan Tarling Klasik. 

Kalau tarling klasik sebenarnya Tarling “Teng Dung”. Karena di dalamnya ada sebuah tembang dengan irama yang dihasilkan dari gitar dan suling saja dengan laras tembang klasik dermayonan, seperti Kiser Saedah, Kiser Kedongdong, Cirebon pegot, Dermayon pegot, Kasmaran, Bayeman, dan bendrong. Adapun lagu-lagu itu asalnya diambil dari lagu-lagu “pujanggaan” berupa pupuh dandang gula, sinom, kinanti, pangkur, mijil dan lain lain yang diperbaharui dengan laras pelan diiringi suara gitar dan suling. 

Adapun yang disebut tarling modern saat ini yaitu grup kesenian tarling yang awalnya memiliki dua group dalam satu rombongan. Yakni group seniman tradisi pendukung drama dan musik tarling dan group musik berirama dangdut. Adapun cara bermainnya dengan petikan gitar gaya tarling yang kadang menyanyikan lagu dangdut asli berbahasa Indonesia, kadang berbahasa Indramayu Cirebon. 

Sementara pada saat ini muncul modernisasi yang lain. Ada group kesenian tarling yang menggunakan alat musik trio organ. Yaitu Gitar, Suling dan Organ serta didukung kemlong dan Kendang Blangpak. Ada juga yang dengan organ saja bisa membawakan lagu tarling klasik, dangdut dan lagu-lagu pop mengikuti selera pasar. Namun pada malam harinya ada drama humornya sebagai selingan. Kesenian ini disebut Organ Tarling. 

Pada perkembangan tarling berikutnya pengaruh modernisasi yang kian merajalela dan semakin terbukanya pasar bebas dan perdagangan internasional yang menglobal, membawa masyarakat seniman tarling dan para pebisnis musik tak guyah dengan pengaruh itu. Mereka yang fleksibel dan mengikuti perkembangan agar terus hidup dan berjaya. Sementara yang pakem dengan gaya lama, akan bubar dan hilang nama groupnya karena tak kuat menanggung biaya hidup nayaganya dan bersaing ketat dengan group organ tunggal. 

Kini Tarling klasik di Indramayu dan di Cirebon sudah bangkrut dan hilang, yang ada adalah grup Organ Dangdut Tarling, atau Tarling dengan iringan Organ yang ada lagu dan dramanya. Tak ada pakem yang dipertahankan. Karena kesenian ini akan terus berkembang sesuai tuntutan pasar, kondisi sosial masyarakatnya dan kemajuan tehnologi yang terus menuntut kreatifitas seniman dan masyarakat penontonnya yang menjadi lahan pasarnya. Dimana masyarakat akan memilih seni tradisional yang praktis, mudah dan murah. 

Sejak munculnya band-band baru dan lagu-lagu pop yang hits sebagaimana mewabah di tingkat nasional, ikut juga mempengaruhi perkembangan group tarling dan organ tunggal. Kejayaan musik-musik group band seperti, Raja, Gigi, The Cangcuter, Shela on7, hingga Ungu, ST 12, Wali di masyarakat telah menggeser posisi hiburan Organ Dangdut Tarling. 

Namun Group Organ Tarling Dangdut pun tak mau kalah. Mereka mencari penyanyi yang serba bisa menyajikan lagu-lagu yang disukai anak muda di sore hari dan di malam harinya ditambahi musik dangdut lama dan drama tarling serta lagu-lagu tarling dangdut. 

Disaat tarling mulai lesu dan tidak memperoleh panggungan, maka muncul nama-nama baru seperti Nano romansah dan H. Udin Zaen asal Indramayu yang menggabungkan kejayaan musik dangdut dalam pentas tarling. Sehingga ada dua pementasan dalam satu panggung yakni tarling klasik dimunculkan setelah Acara dangdutan gaya Rhoma Irama di pentas siang dan malam. 

Karena jasa Nano Romansyah dan Udin Zaen inilah kemudian grup-grup tarling lainnya mengajak pentas group dangdut anak-anak muda dalam satu panggung. Cara ini untuk melanggengkan kesenian tarling klasik. 

Berikutnya kemudian muncul tokoh Dangdut tarling seperti Yoyo Suaryo, Ipang Supendi, Toyib Suaryo, ITI S, Wati S., Nunung Alfi, Aas Rolani, Dewi Kirana, dan Kini era penyanyi organ tarling seperti Diana Sastra, Wulan, Noer Elfathony, Tuti, Deddy Yohana, Eddy Zaky, Wadi Oon, Thorikin, Edy Bentar, dan banyak tokoh lainnya, demikian diungkap Nurochman Sudibyo YS atau yang dikenal dengan nama Ki Tapa Kelanabeberapa waktu yang lalu. 

Mudah-mudahan dengan tulisan ini generasi muda tidak lupa dengan sejarah budayanya sendiri dan bisa melestarikan budaya tersebut. 
Facebook Comments